TAPANULI UTARA – Editorial24jam.com ||Joab Aritonang, Oppung Tarida, Lahir 21/07/1924, Meninggal dunia 14/05/1982.
Memperistri, Tio Lina Marbun, Lahir 19/05/1927, Meninggal dunia 31/03/2014.
Kedua orang tersebut Menikah pada tahun 1943, Dikaruniai anak laki-laki dan perempuan antara lain,
1.Duminar Boru Aritonang, menikah dengan Marga Situmorang, atau Oppung Putra.
2.Mahompang Aritonang, Menikah dengan Boru Butar-butar, atau Oppung Rizki.
3.Hiras Aritonang, menikah dengan Boru Siregar, atau Oppung Erik.
4.Jakobus Aritonang, Menikah dengan Boru Manalu, atau Oppung Hot Nauli.
5.Roida Boru Aritonang, Menikah dengan Marga Marbun Lumban Gaol, atau Oppung Theresia.
6.Pautus Aritonang, menikah dengan Boru Marbun Lumban Gaol, atau Oppung Citra.
7.Liria Boru Aritonang, menikah dengan Marga Simanjuntak, atau Ama Pa tar.
8, Berniani Boru Aritonang, menikah dengan Marga Saragih, atau Oppung Iben.
9.Po ide Boru Aritonang, menikah dengan Marga Siagian, atau Oppung Sarini.
Oppung Joab Aritonang, setelah puluhan tahun meninggal dunia, atas kesatuan hati dari Pomparan atau Generasinya, sesuai tradisi orang batak, akan melakukan mangukkar holi, atau menggali tulang belulang orang tuanya, untuk dipindahkan ke Dolok-dolok natimbo, atau ke tempat yang lebih layak, Tonggo raja dan tonggo Hula pun dilakukan, untuk membahas dalam forum bagaimana bentuk acara yang akan dilaksanakan.
Dalam tonggo raja melibatkan pemerintah setempat, Raja Huta, Bius, hula-hula, Tokoh-tokoh Adat, agama, dan Raja ni marga boru. bertempat di Huta Dolok Na Godang, Desa Huta Tua, kecamatan parmonangan, Kabupaten Tapanuli utara Sumut, Jumat 24/10/2025.
Pada acara tonggo raja dan tonggo hula-hula, dihadiri Silaban sebagai tulang Tombuk, Marbun Lumban Gaol sebagai tulang Bona, Simamora Sebagai tulang Rorobot, Manalu sebagai tulang Simanjukkot dan Butar-Butar, Manalu Sebagai Bona ni Ari, Butar-butar, Hutasoit, Lumban Gaol dan Sihite, sebagai Hula-Hula Parsiat.
Bona Hasuhutun, Tuan rumah yang melaksanakan acara pesta tradisi adat batak, marga aritonang, pasahatton, memberikan tudu-tudu ni sipanganon pada siraja nihula-hula, bagian dari hal penting yang tak dapat dilewatkan dalam tradisi orang batak.
Begitu juga dengan tulang dan hula-hula memberikan ikan mas kepada Bere atau pamoruonnya, dalam hal ini marga Aritonang dan keluarga besar.
Selanjutnya tamu dan undangan makan bersama, tudu-tudu ni Sipanganon (jambar juhut), baik ikan mas dibagikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan tarombo atau silsilah garis keturunan atau pomparan dari masing-masing marga yang mengadakan acara pesta.
Pembagian jambar tersebut adalah bagian dari tradisi budaya batak hal yang sangat penting untuk selalu dilaksanakan dan dilestarikan secara turun temurun karena bagian dari Tarombo atau garis keturunan.
Setelah acara makan bersama selesai, raja parhata atau parsinabung Aritonang, menyampaikan rasa terimakasih kepada seluruh tamu undangan, tulang, hula-hula, Raja Huta, Bius, Tokoh-tokoh Adat, agama, dan Raja ni marga boru dan teman sekampung.
Raja parhata Aritonang, mempertegas maksut dan tujuan dari pihak mereka dalam tonggo raja.
Perwakilan yang hadir memberikan masukan kepada marga Aritonang, Seluruh yang hadir merestui maksut dan tujuan baik, namun sebagai tulang, hula-hula, Raja Huta, Bius, Tokoh-tokoh Adat, agama, dan Raja ni marga boru dan teman sekampung, memberikan panuturion atau masukan dalam melaksanakan acara tradisi adat batak tersebut agar berjalan dengan baik tanpa melakukan kesalahan yang dapat mengurangi makna pelaksanaan acara, bahkan untuk menghindari rasa sakit hati.
Dari hasil tonggo raja dan tonggo hula-hula, menyepakati acara tradisi orang batak, keluarga besar Aritonang, akan melaksanakan mangukkar holi, atau menggali tulang belulang orang tua mereka, untuk dipindahkan ke Dolok-dolok natimbo, atau ke tempat yang lebih layak, pada hari sabtu, 25/10/2025 yang akan dimulai pukul 07 00 Waktu Indonesia Barat.
Penulis : BMT. Manalu
Redaktur : Abednego













Leave a Reply