Advertisement

15 Kecamatan Di Taput Diselimuti Kabut Asap, Warga Khawatir – BMKG : Tidak Ada Hotspot Di Sumut 

TAPUT – editorial24jam.com  ||Kepulan kabut asap dalam beberapa pekan terakhir semakin tebal menyelimuti wilayah Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatera Utara. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran masyarakat akan dampak kesehatan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, sedikitnya 15 kecamatan terdampak. Yaitu: Adian Koting, Garoga, Muara, Pagaran, Pahae Jae, Pahae Julu, Pangaribuan, Parmonangan, Purba Tua (Purbatua), Siatas Barita, Siborongborong, Simangumban, Sipahutar, Sipoholon dan Tarutung.

Fenomena paling tebal terlihat di Kecamatan Siborongborong, tepatnya Desa Sitabotabo, Rabu (14/10/2026). Kabut tebal menyelimuti permukiman warga dan ruas jalan lintas Sumatera, sehingga jarak pandang pengendara terganggu dan dikhawatirkan meningkatkan risiko kecelakaan.

Diduga Asap Kiriman, BMKG Tidak Temukan Hotspot di Sumut

Menariknya, berdasarkan pantauan citra satelit BMKG Wilayah I Medan per 14 Oktober 2026, tidak ditemukan titik panas (hotspot) maupun kebakaran hutan aktif di wilayah Sumatera Utara.

Kondisi ini menimbulkan dugaan bahwa kabut asap yang menyelimuti Taput merupakan asap kiriman dari daerah lain yang sedang mengalami kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Kekhawatiran Warga: Anak Balita Jadi Korban

Salah seorang warga Sitabotabo, Renata Situmeang, mengaku cemas.

“Ya jelas khawatir, semakin lama semakin tebal kepulan asapnya. Pada kesehatan terutama yang kita khawatirkan, apalagi pada anak yang masih kategori balita, seperti anak saya,” ujarnya kepada media ini.

Menurut warga, kelompok rentan seperti balita, lansia, dan penderita gangguan pernapasan paling membutuhkan perlindungan saat kualitas udara memburuk.

Warga Minta Pemkab Taput Keluarkan Info Resmi Kualitas Udara

Di tengah kondisi ini, masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Taput melalui instansi terkait segera melakukan pemantauan kualitas udara dan memberikan informasi resmi mengenai kondisi di 15 kecamatan terdampak.

Informasi yang jelas dinilai penting agar warga tahu langkah antisipasi, terutama jika konsentrasi asap semakin meningkat. Termasuk imbauan khusus bagi kelompok rentan.

Kekhawatiran serupa juga terjadi di daerah lain di Indonesia. Beberapa daerah seperti Kota Padang, Payakumbuh, Padang Panjang di Sumbar, Kota Ambon, Ternate, Kab. Karimun, Kab. Boven Digoel, Asmat, Mappi di Papua Selatan, serta Kab. Hulu Sungai Utara di Kalsel bahkan telah mengambil kebijakan mengalihkan kegiatan belajar mengajar menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Dinkes: Belum Ada Lonjakan ISPA, Dindik: Wajib Pakai Masker

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Taput, dr. Ganda Nainggolan saat dikonfirmasi Rabu (14/10/2026) mengatakan, hingga saat ini belum ditemukan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang signifikan di RSUD Tarutung yang dapat dikaitkan langsung dengan kabut asap.

Meski begitu, kewaspadaan tetap ditingkatkan. Kabut asap akibat Karhutla dapat mengandung partikel pencemar yang berpotensi menimbulkan iritasi mata, tenggorokan, batuk, hingga gangguan saluran pernapasan.

Dinas Pendidikan Kabupaten Taput juga telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh satuan pendidikan:

1. Peserta didik, guru dan tenaga kependidikan wajib menggunakan masker saat berangkat, selama di sekolah, hingga pulang.

2. Mengurangi aktivitas di luar ruangan / luar kelas selama kabut asap masih berlangsung.

3. Mengingatkan siswa memperbanyak konsumsi air putih dan menjaga kebersihan.

4. Memberikan perhatian khusus kepada siswa dengan riwayat ISPA maupun asma, dan segera koordinasi dengan Puskesmas terdekat jika kondisi memburuk.

Imbauan tersebut berlaku hingga kondisi udara kembali normal.

Penulis: BMT.Manalu

246 Pembaca

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *