Advertisement

Soegiharto Santoso Nilai Menko AHY Layak Raih Special Honorary Leadership Award di ASOCIO 2026

JAKARTA – Editorial24jam.com || Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dinilai layak menerima Special Honorary Leadership Award pada ajang ASOCIO Digital & AI Summit 2026.

Penilaian tersebut disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS) sekaligus Ketua Umum APKOMINDO, Ir. Soegiharto Santoso, S.H., yang akrab disapa Hoky.

Menurut Hoky, penilaian itu tidak semata-mata didasarkan pada posisi AHY sebagai menteri, tetapi juga mempertimbangkan rekam jejak kepemimpinan, pemikiran strategis, serta relevansi kebijakannya dalam menghubungkan pembangunan infrastruktur, konektivitas wilayah dan transformasi digital.

Pengusulan AHY berawal dari nominasi resmi APTIKNAS sebagai tuan rumah ASOCIO Digital & AI Summit 2026 sekaligus asosiasi anggota ASOCIO dari Indonesia.

Dalam rekomendasinya kepada ASOCIO Awards Committee, APTIKNAS mempertimbangkan rekam jejak kepemimpinan AHY, relevansi kebijakannya terhadap pembangunan infrastruktur dan ekonomi digital, serta kontribusinya terhadap konektivitas dan pembangunan wilayah berkelanjutan.

Usulan tersebut kemudian diterima ASOCIO Awards Committee setelah melalui proses penilaian independen dan penelusuran rekam jejak AHY oleh komite tersebut.

Sejumlah momentum menjadi perhatian dalam penilaian tersebut, di antaranya penekanan AHY terhadap percepatan pembangunan infrastruktur digital untuk mengurangi kesenjangan wilayah pada November 2024, keterkaitan pembangunan infrastruktur dengan ketahanan nasional di tengah dinamika geopolitik dalam Indonesia Economic Summit pada Februari 2026, serta pentingnya mengintegrasikan infrastruktur, konektivitas dan penataan ruang dalam pembangunan berkelanjutan saat koordinasi pembangunan wilayah Bali pada Juli 2026.

Empat Momentum yang Dinilai Menunjukkan Konsistensi AHY

Hoky mengatakan dirinya beberapa kali menyimak paparan AHY dalam berbagai forum strategis nasional. Ia melihat adanya benang merah dalam pemikiran AHY, khususnya mengenai pentingnya pembangunan infrastruktur yang terintegrasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Saya beberapa kali menyimak paparan Pak Menko AHY dalam berbagai agenda strategis. Menurut saya, paparannya selalu memukau karena mampu menghubungkan pembangunan infrastruktur, kebutuhan masyarakat, dan transformasi digital dalam perspektif yang komprehensif,” ujar Hoky.

Salah satu momentum berlangsung saat AHY menjadi keynote speaker pada peresmian IndoBuildTech Expo 2026 di Hall 2 ICE BSD City, Tangerang, Rabu (8/7/2026).

Berikutnya, pada Selasa (11/8/2026), AHY menghadiri peresmian Indonesia International Smart City 2026 Expo & Forum (IISMEX) yang digelar bersamaan dengan sejumlah pameran terkait air, lingkungan, energi, keamanan dan keselamatan di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta.

Momentum ketiga berlangsung dalam ASOCIO Digital & AI Summit 2026 di Swissôtel Jakarta PIK Avenue, Jakarta, Selasa (6/10/2026). Dalam forum yang mempertemukan pemimpin industri teknologi Asia–Oseania tersebut, AHY menyampaikan keynote bertajuk “Infrastructure in the Age of AI: Building Smart, Connected and Resilient Regions”.

Momentum keempat adalah Digital Infrastructure Summit 2026 yang diselenggarakan Biru Muda Project di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta, Senin (12/10/2026).

Menurut Hoky, keempat forum tersebut memperlihatkan keterkaitan antara pembangunan infrastruktur fisik dan digital dengan kebutuhan transformasi teknologi, pengembangan kota cerdas serta penguatan konektivitas nasional.

Infrastruktur Fisik, Digital dan Energi

Dalam keynote ASOCIO Digital & AI Summit 2026, AHY menekankan pentingnya mengintegrasikan konektivitas fisik, digital dan energi sebagai satu ekosistem pembangunan.

Infrastruktur transportasi mendukung mobilitas dan distribusi barang, konektivitas digital memperluas akses terhadap layanan publik serta kegiatan ekonomi, sedangkan energi yang andal menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi.

AHY juga menggarisbawahi enam sasaran pembangunan, yakni mengurangi ketimpangan, mempermudah mobilitas, meningkatkan keandalan infrastruktur, mewujudkan wilayah yang lebih aman, menciptakan lapangan kerja yang lebih baik, serta menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang.

Perspektif tersebut menempatkan manfaat bagi masyarakat sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, penerapannya membutuhkan sinkronisasi infrastruktur, investasi, kebijakan serta kesiapan pemerintah daerah dan masyarakat agar manfaat transformasi digital dapat menjangkau lebih banyak wilayah.

Menjelang akhir keynote, AHY turut menyampaikan apresiasi kepada APTIKNAS selaku tuan rumah ASOCIO Digital & AI Summit 2026. Forum regional tersebut menjadi ruang bagi Indonesia untuk memperluas interaksi dan kerja sama dengan pemimpin industri teknologi, asosiasi serta pemangku kepentingan transformasi digital dari 25 ekonomi anggota ASOCIO di kawasan Asia–Oseania.

Hoky mengatakan perkembangan kecerdasan buatan tidak dapat dilepaskan dari kesiapan infrastruktur pendukung.

“Bagi industri TIK, AI bukan hanya persoalan perangkat lunak atau kecanggihan algoritma, melainkan juga konektivitas, pusat data, energi, dan kesiapan sumber daya manusia. Infrastruktur yang terintegrasi merupakan fondasi agar inovasi dan investasi digital dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” jelasnya.

Dinilai Relevan dengan Tantangan Era AI

Chair Organising Committee ASOCIO Digital & AI Summit 2026, Karim Taslim, menilai pesan yang disampaikan AHY relevan dengan kebutuhan pembangunan di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurut Karim, integrasi infrastruktur fisik, digital dan energi diperlukan untuk memastikan perkembangan teknologi dapat memberikan manfaat secara lebih merata.

“Bagi kami, penghargaan ini bukan semata tentang jabatan, melainkan apresiasi terhadap arah kepemimpinan yang menghubungkan infrastruktur fisik, digital, dan energi. Perspektif Indonesia penting bagi Asia–Oseania karena kemajuan teknologi baru benar-benar bermakna apabila manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara lebih merata,” ujar Karim.

Hoky menambahkan, tantangan Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan pendekatan pembangunan yang mampu memperkecil kesenjangan antardaerah, meningkatkan kualitas layanan publik, memperkuat daya saing industri dan memperluas akses masyarakat terhadap teknologi.

“Saya menilai penghargaan ini relevan dengan tantangan pembangunan Indonesia di era AI. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan industri TIK perlu terus diperkuat agar pembangunan infrastruktur, inovasi, dan pemanfaatan teknologi digital dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Hoky, yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Perkumpulan Advokat Teknologi Informasi Indonesia (PERATIN).

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, komunitas, media dan berbagai pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam mendorong transformasi digital yang inklusif dan berkelanjutan.

ASOCIO 2026 Jadi Ruang Kolaborasi Asia–Oseania

Penyelenggaraan ASOCIO Digital & AI Summit 2026 di Jakarta juga mendapat perhatian dari sejumlah media dan publikasi industri di kawasan Asia–Oseania.

Sejumlah publikasi dari Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Filipina, Pakistan, Nepal dan Vietnam menyoroti partisipasi maupun capaian delegasi dari negara masing-masing dalam ajang tersebut.

Ragam pemberitaan itu menunjukkan bahwa ASOCIO Digital & AI Summit 2026 menjadi ruang bagi berbagai negara untuk memperkenalkan inovasi, capaian industri dan perkembangan ekosistem digital masing-masing, sekaligus membuka peluang kerja sama lintas negara.

ASOCIO Digital & AI Summit 2026 berlangsung pada 5–7 Oktober 2026 di Swissôtel Jakarta PIK Avenue, Jakarta. Kegiatan tersebut mempertemukan pimpinan asosiasi industri, eksekutif teknologi dan delegasi dari berbagai ekonomi anggota ASOCIO melalui rangkaian pertemuan organisasi, forum digital dan AI, sesi keynote, diskusi, malam penghargaan serta jejaring bisnis.

Bagi APTIKNAS, penyelenggaraan forum regional tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas kerja sama internasional, memperkenalkan kemampuan industri teknologi Indonesia serta membangun kemitraan bisnis dan pertukaran pengetahuan di kawasan Asia–Oseania.

Hoky menegaskan, keberhasilan transformasi digital tidak cukup diukur dari kecanggihan teknologi maupun besarnya investasi. Menurut dia, ukuran penting lainnya adalah sejauh mana pembangunan mampu meningkatkan produktivitas, memperkecil kesenjangan dan membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat.

“Pada akhirnya, teknologi harus membantu manusia, memperkecil kesenjangan, dan membuka kesempatan yang lebih luas. Karena itu, saya menilai penghargaan kepada Pak Menko AHY merupakan pengakuan yang relevan dengan pentingnya kepemimpinan strategis dalam menghubungkan pembangunan infrastruktur, konektivitas, dan transformasi digital,” tutup Hoky.

Penulis: [MNL)

9 Pembaca

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *