Advertisement

Pemberkatan Pernikahan Candro Benediktus Manalu dan Ferawati Sitorus di Gereja Katolik Hati Maha Kudus Sandaran 

TAPANULI UTARA – Editorial24jam.com ||Keluarga besar T. Manalu/B.Br. Simamora Oppung Orion dari Sandaran Desa Lobu Sikkam, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, menyelenggarakan pemberkatan pernikahan putra ketiga mereka dari tujuh bersaudara, Candro Benediktus Manalu, dengan Ferawati Sitorus, S.Pd., Gr., putri dari I. Sitorus/N. Br. Manalu (Oppung Moses) dari Pekanbaru.

Pemberkatan pernikahan ini merupakan momen yang sangat spesial bagi keluarga besar T. Manalu/B.Br. Simamora dan keluarga besar I. Sitorus/N. Br. Manalu. Semoga pernikahan yang baru dimulai ini menjadi awal yang baik dan diberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa bagi kedua mempelai.

“Pemberkatan pernikahan pasangan Candro Benediktus Manalu dan Ferawati Sitorus, S.Pd., Gr. diselenggarakan pada hari Selasa, tanggal 6 Januari 2026, di Gereja Katolik Hati Maha Kudus Sandaran, Desa Lobu Sikkam, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara.”

Pemberian bunga oleh pengantin pria dan wanita, atau sering disebut sebagai upacara tukar janji dengan bunga atau “wedding bouquet exchange,” memiliki beberapa tujuan simbolis dan makna penting dalam pernikahan.

Bunga secara universal melambangkan cinta, keindahan, dan pertumbuhan. Saling memberikan bunga adalah cara visual bagi pasangan untuk mengekspresikan cinta dan dedikasi mereka satu sama lain di hadapan keluarga dan teman.

Tindakan ini menjadi tanda penghargaan dari pengantin pria kepada pengantin wanita (dan sebaliknya), atas kehadiran dan kesediaan mereka untuk memulai hidup bersama. Ini adalah isyarat rasa terima kasih atas cinta dan dukungan yang diberikan

Sebelum pemberkatan pernikahan, perwakilan Tulang atau Tintin marangkup marga Simamora Oppung Arta Uli Simamora memimpin doa bersama untuk kedua keluarga dan secara khusus mendoakan kedua mempelai, Candro Benediktus Manalu dan Ferawati Sitorus, agar pemberkatan pernikahan mereka berjalan dengan baik, diberkati dan dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Pengantin Candro Manalu dan Ferawati Sitorus, menuju ke Gereja Katolik Hati Maha Kudus Sandaran diiringi oleh musik tiup yang meriah dan penuh suka cita. Suara musik tiup yang menghiasi prosesi pernikahan ini menambah kemeriahan dan kebahagiaan suasana, menandai awal dari perjalanan hidup baru bagi kedua mempelai.

Dengan penuh kasih dan harapan, doa bersama ini menjadi awal yang baik bagi kedua mempelai untuk memulai hidup baru bersama.

Sebelum memasuki Gereja Katolik Hati Maha Kudus Sandaran, Pastor Christian Laudri Malau melakukan prosesi penyambutan dalam acara pemberkatan kepada kedua mempelai, Candro Benediktus Manalu dan Ferawati Sitorus, sesuai dengan tradisi Gereja Katolik. Prosesi ini menandai dimulainya upacara pemberkatan pernikahan.

Pemberkatan pernikahan dihadiri oleh keluarga besar Hasuhuton paranak dan parboru, serta tulang/Hula-hula dongan sahuta dan para undangan lainnya.

Acara pemberkatan pernikahan ini menjadi momen yang sangat spesial bagi kedua mempelai dan keluarga besar, dengan kehadiran para undangan yang membawa doa dan harapan baik bagi kedua mempelai.

Acara pemberkatan pernikahan dilaksanakan secara khidmat dan penuh makna menurut agama Kristen Katolik oleh Pastor Christian Laudri Malau di Gereja Katolik Hati Maha Kudus Sandaran.

Dengan dipimpin oleh Pastor Christian Laudri Malau, pemberkatan pernikahan ini menjadi momen yang sangat sakral dan penuh makna bagi kedua mempelai dan keluarga besar.

Pada momen yang sakral, Candro Manalu dan Ferawati Sitorus, melakukan prosesi tukar cincin di hadapan Pastor Christian Laudri Malau. Tukar cincin ini merupakan simbol komitmen, cinta abadi, dan janji setia seumur hidup, yang menandai awal babak baru kehidupan pernikahan dan pengikatan diri secara resmi sebagai suami istri.

Cincin yang berbentuk lingkaran melambangkan ikatan yang tak terputus, kepemilikan satu sama lain, dan sebagai pengingat akan janji suci yang telah diucapkan. Dengan demikian, tukar cincin ini menjadi momen yang sangat berarti bagi kedua mempelai untuk memulai hidup baru bersama.

Pernikahan Candro Benediktus Manalu dan Ferawati Sitorus disaksikan dan ditandatangani oleh saksi-saksi, yaitu Minto Manalu dan Parlin Rumagorga. Kehadiran mereka sebagai saksi menandai dukungan dan pengakuan atas komitmen pernikahan kedua mempelai.

Dengan terselenggaranya pemberkatan nikah, Candro Benediktus Manalu dan Ferawati Sitorus secara resmi menjadi suami istri menurut agama Kristen Katolik. Pemberkatan ini menandai komitmen mereka untuk hidup bersama sebagai pasangan yang sah di mata Tuhan dan gereja. Semoga pernikahan mereka diberkati dengan cinta, kebahagiaan, dan harmoni dalam rumah tangga.

Pernikahan adat Batak memiliki makna yang mendalam dalam memperkuat ikatan kekerabatan dan persatuan dua keluarga besar. Proses pernikahan adat Batak melibatkan berbagai tahapan, seperti Marhata Sinamot (membahas mas kawin), Martumpol (pertunangan), dan akan dilaksanakan Mangulosi (pemberian ulos), dan Paulak Une (kunjungan setelah nikah).

Pernikahan Candro Benediktus Manalu dan Ferawati Sitorus disaksikan dan ditandatangani oleh saksi-saksi, yaitu Minto Manalu dan Parlin Rumagorga. Kehadiran mereka sebagai saksi menandai dukungan dan pengakuan atas komitmen pernikahan kedua mempelai.

Dengan terselenggaranya pemberkatan nikah, Candro Benediktus Manalu dan Ferawati Sitorus secara resmi menjadi suami istri menurut agama Kristen Katolik. Pemberkatan ini menandai komitmen mereka untuk hidup bersama sebagai pasangan yang sah di mata Tuhan dan gereja. Semoga pernikahan mereka diberkati dengan cinta, kebahagiaan, dan harmoni dalam rumah tangga.

Keluarga Besar pihak paranak dan parboru, kerabat, dan undangan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai dengan cara bersalaman, sebagai tanda kasih, dukungan, dan kebahagiaan atas pernikahan Candro Benediktus Manalu dan Ferawati Sitorus.

“Setelah pemberkatan pernikahan yang suci dan penuh makna, acara dilanjutkan dengan prosesi ulaon adat nagok, sebuah tradisi yang sarat makna dan simbol kebudayaan Batak yang menunjukkan kekayaan dan keunikan budaya batak toba.”

Penulis : BMT. Manalu
Redaktur : Abednego

161 Pembaca

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *