Advertisement

Zaman AI, Data di Laptop Bisa “Keluar” Diam-Diam, Ini yang Perlu Diwaspadai

JAKARTA – Editorial24jam.com || Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan pola kerja dari mana saja membuat laptop serta komputer pribadi menyimpan semakin banyak informasi penting. Dokumen pekerjaan, foto pribadi, data pelanggan hingga informasi perusahaan kini kerap berada dalam satu perangkat.

Namun, banyak pengguna belum menyadari bahwa data yang tersimpan di perangkat tersebut dapat berpindah atau dikirim keluar tanpa menunjukkan tanda yang mudah dikenali.

Kebocoran data tidak selalu diawali serangan siber besar yang langsung membuat komputer bermasalah. Kelalaian pengguna, penggunaan aplikasi secara tidak hati-hati, hingga pemberian akses berlebihan kepada perangkat lunak juga dapat membuka celah keamanan.

Laporan industri keamanan siber, termasuk Verizon Data Breach Investigations Report (DBIR), secara konsisten menunjukkan bahwa faktor manusia berperan dalam berbagai insiden kebocoran data.

Risikonya beragam, mulai dari mengeklik tautan mencurigakan, menggunakan perangkat penyimpanan eksternal yang tidak dikenal, hingga memindahkan dokumen pekerjaan ke layanan cloud pribadi.

Malware Bisa Bekerja Tanpa Gejala

Ancaman semakin sulit dikenali karena sejumlah malware modern dirancang untuk bekerja secara diam-diam.

Jika virus komputer pada masa lalu kerap membuat perangkat menjadi lambat atau menampilkan pesan aneh, malware tertentu dapat berjalan di belakang layar. Data dapat dibaca, disalin, kemudian dikirim ke server tertentu tanpa memberikan tanda yang jelas kepada pengguna.

Karena itu, laptop yang tetap berfungsi normal tidak otomatis berarti seluruh data di dalamnya aman.

Banyak Jalur Data yang Perlu Diwaspadai

Pergerakan data tidak selalu terjadi melalui jalur yang tampak berbahaya. Aktivitas sehari-hari justru dapat menjadi salah satu pintu keluarnya informasi.

Penggunaan flashdisk atau perangkat eksternal yang tidak dikenal, misalnya, memiliki risiko keamanan. Begitu pula kebiasaan mengunggah dokumen pekerjaan ke akun cloud pribadi seperti Google Drive, Dropbox atau OneDrive.

Email dan aplikasi pesan pribadi juga dapat digunakan untuk memindahkan dokumen dari perangkat kerja.

Perkembangan teknologi AI menambah tantangan baru. Asisten AI dapat membantu berbagai pekerjaan, mulai dari menulis, meringkas, menerjemahkan hingga menganalisis dokumen.

Namun, persoalan keamanan muncul ketika aplikasi atau layanan AI memperoleh akses ke folder kerja.

Pertanyaan penting yang perlu diperhatikan pengguna adalah: data apa yang dapat diakses aplikasi tersebut, ke mana data dikirim, dan bagaimana data tersebut diproses?

Semakin banyak aplikasi yang terhubung dengan perangkat, semakin penting pengguna memahami jenis akses yang diberikan.

Kemudahan Teknologi Juga Membawa Risiko

Kemajuan teknologi sering membuat pengguna lebih fokus pada manfaat dibandingkan risiko keamanan.

Ketika sebuah aplikasi mampu menyelesaikan pekerjaan dalam hitungan detik, permintaan akses terhadap folder atau dokumen terkadang langsung disetujui tanpa memeriksa kebutuhan akses tersebut.

Padahal, akses yang terlalu luas dapat membuka informasi yang sebenarnya tidak diperlukan untuk menjalankan fungsi aplikasi.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika data yang tersimpan merupakan informasi pribadi, data pelanggan atau informasi internal perusahaan.

Di Indonesia, pelindungan data pribadi telah diatur melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).

Risiko kebocoran data juga tidak hanya berkaitan dengan aspek privasi. Bagi perusahaan, insiden semacam itu dapat menimbulkan konsekuensi operasional, biaya pemulihan dan kerugian bisnis.

Karena itu, keamanan data bukan hanya tanggung jawab perusahaan besar. Pengguna laptop dan PC pribadi juga perlu memahami bagaimana data bergerak dari perangkat mereka.

Langkah Sederhana untuk Mengurangi Risiko

Ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan pengguna dalam aktivitas sehari-hari.

Pertama, hindari menggunakan flashdisk atau perangkat eksternal yang tidak diketahui asal-usulnya.

Kedua, jangan sembarangan mengunggah dokumen pekerjaan ke akun cloud pribadi.

Ketiga, berikan izin akses kepada aplikasi maupun layanan AI sesuai kebutuhan. Semakin luas akses yang diberikan, semakin besar pula informasi yang berpotensi dapat dijangkau aplikasi tersebut.

Keempat, pastikan sistem operasi dan aplikasi selalu diperbarui untuk mengurangi risiko akibat celah keamanan yang telah diketahui.

Selain itu, pengguna perlu memperhatikan aktivitas perangkat, bukan hanya mengandalkan deteksi antivirus.

Sebab, ketika data sudah keluar dari perangkat, persoalannya tidak lagi sebatas mencegah, tetapi juga bagaimana mengidentifikasi sumber kebocoran dan melakukan pemulihan.

Munculnya Solusi Pemantauan Aktivitas Data

Kebutuhan untuk mengetahui aktivitas yang terjadi di dalam perangkat turut mendorong munculnya berbagai solusi keamanan.

Salah satunya adalah Fortrix, perangkat lunak yang menurut informasi perusahaan tersebut dirancang untuk memantau proses, koneksi keluar dan akses file pada laptop maupun PC.

Fortrix juga diklaim dapat membantu memblokir aktivitas malware dan pencurian data secara otomatis. Solusi tersebut ditujukan bagi pengguna individu, pekerja mandiri, pelaku usaha hingga tim teknologi informasi perusahaan.

Menurut informasi yang diberikan Fortrix, proses pemasangannya sederhana dan perangkat lunak tersebut disebut dapat aktif dalam waktu sekitar lima menit tanpa membutuhkan tim IT khusus.

Dengan pemantauan tersebut, pengguna memiliki lapisan keamanan tambahan selain antivirus, terutama untuk mengetahui aktivitas yang berkaitan dengan akses dan pergerakan data.

Meski demikian, efektivitas setiap solusi keamanan tetap bergantung pada konfigurasi, penggunaan dan kebutuhan masing-masing perangkat.

Di era AI, keamanan laptop tidak lagi hanya berkaitan dengan mencegah virus masuk. Pengguna juga perlu memahami apa yang terjadi terhadap data setelah sebuah aplikasi mendapatkan akses ke perangkat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah pencurian data hanya berasal dari peretas dari luar?

Tidak. Risiko dapat muncul dari berbagai arah, termasuk kelalaian pengguna. Flashdisk yang tidak dikenal, pemindahan dokumen ke cloud pribadi, email, aplikasi pesan hingga aplikasi atau layanan AI dengan akses berlebihan dapat menjadi jalur perpindahan data.

Apakah antivirus sudah cukup?

Antivirus tetap penting untuk mendeteksi dan menangani malware. Namun, deteksi malware dan pemantauan pergerakan data merupakan aspek keamanan yang berbeda. Keduanya dapat digunakan sebagai lapisan perlindungan yang saling melengkapi.

Berapa lama pemasangan Fortrix?

Menurut informasi dari Fortrix, proses instalasi disebut sederhana dan perangkat lunak tersebut dapat aktif dalam waktu sekitar lima menit. Layanan tersebut ditawarkan dengan skema satu perangkat untuk satu lisensi.

Bagaimana mendapatkan informasi mengenai Fortrix?

Informasi lebih lanjut mengenai produk tersebut dapat diperoleh melalui situs yang disediakan pihak Fortrix.

Sumber dan Referensi:

  • Verizon Data Breach Investigations Report (DBIR)
  • IBM Cost of a Data Breach Report
  • Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi
85 Pembaca

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *