TAPUT – Editorial24jam.com || Gaung program “SAITAPAIAS” dan “TAPAMAJUMA” yang digencarkan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) di sektor pendidikan tampaknya belum sepenuhnya menyentuh realitas di lapangan, begitu juga tuntutan transparansi terkait pengelolaan anggaran. Di SD Negeri 173262 Lumban Garaga, Kecamatan Pahae Julu, kondisi yang terlihat justru berbanding terbalik.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Selasa (28/04/2026), lingkungan sekolah dengan jumlah siswa sekitar 100 orang itu tampak kurang terawat. Sampah plastik dan kertas terlihat berserakan di belakang gedung sekolah, kondisi yang dinilai bertolak belakang dengan semangat program kebersihan dan pembenahan pendidikan yang tengah digencarkan pemerintah daerah.
Tidak hanya itu, kondisi sarana dan prasarana (sarpras) sekolah juga memprihatinkan. Sejumlah fasilitas seperti jendela kaca yang pecah, atap asbes berlubang, serta pintu kamar mandi yang rusak belum mendapat perbaikan memadai. Hal ini memunculkan pertanyaan dari masyarakat terkait efektivitas penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), khususnya pada pos anggaran perawatan sarpras.
Dalam tiga tahun terakhir, sekolah tersebut diketahui menerima dana BOS sebesar Rp291.650.000. Dari jumlah tersebut, anggaran yang dialokasikan untuk perawatan sarpras masing-masing Rp7.800.000 pada 2023, Rp11.931.000 pada 2024, dan Rp10.231.000 pada 2025, dengan total mencapai Rp29.962.000. Namun, kondisi fisik sekolah dinilai tidak menunjukkan perubahan signifikan.
Tak hanya dana BOS, diketahui sekolah tersebut mendapatkan proyek revitalisasi sekolah yang bersumber dari APBN 2025 sebesar Rp478.935.591 juga ikut dipertanyakan. Bantuan yang diterima pada Oktober 2025 itu dinilai warga belum menunjukkan hasil yang memuaskan.
“Ini harus diusut. Bukan hanya dana BOS, tapi juga revitalisasi. Pengerjaannya kemarin terkesan asal jadi,” ujar Sitompul, warga setempat, sembari menunjukkan dokumentasi kondisi bangunan pada saat pengerjaan.
Ruslan Siagian, selaku kepala sekolah SD Negeri 173262 Lumban Garaga ketika dikonfirmasi hingga saat ini enggan memberikan tanggapan.
Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara dan instansi terkait dalam memastikan program “SAITAPAIAS” dan “TAPAMAJUMA” berjalan efektif serta tepat sasaran, khususnya dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan fasilitas pendidikan.
Penulis/Redaktur : [Abednego Manalu]













Leave a Reply