Advertisement

Ketua LSM KCBI Minta Penjelasan Terbuka Soal Istilah “Tiris Tongkarang”

DAIRI – Editorial24jam.com || Ketua LSM Kemilau Cahaya Bangsa Indonesia (KCBI) Kabupaten Dairi, Insan Banurea, melayangkan tantangan terbuka kepada oknum tokoh budaya Pakpak yang menyebut dirinya dengan istilah “tiris tongkarang”. Ia meminta agar istilah tersebut dijelaskan secara terbuka dan utuh kepada publik.

Insan menilai pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.

Sebagai generasi muda asal Mpubada dan juga pegiat budaya lokal, Insan Banurea menegaskan bahwa ucapan oknum tokoh tersebut sangat disayangkan.

“Pernyataan itu terkesan mengerdilkan cara berpikir generasi muda ke depan,” tegasnya.

Menurutnya, pernyataan tersebut muncul setelah LSM KCBI secara resmi memberikan dukungan hukum kepada Syahdan Sagala dan istrinya, Morita Bintang. Namun, dukungan tersebut justru memicu tudingan bahwa dirinya berpihak kepada Suku Toba, bukan Pakpak.

Tudingan tersebut, kata Insan, disampaikan melalui tulisan yang beredar di grup WhatsApp Forum Penyelamat Tanah Ulayat Pakpak.

Insan menegaskan bahwa pendampingan yang dilakukan LSM KCBI tidak berkaitan dengan persoalan hak ulayat maupun isu SARA, melainkan murni menyangkut hak asasi manusia.

“Berdasarkan investigasi tim kami, Syahdan Sagala layak mendapatkan perhatian dan pengawalan atas kasus yang dialaminya,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa konflik antara Syahdan Sagala dan Nuridah Puspa Pasi tidak memiliki hubungan dengan latar belakang kesukuan masing-masing pihak.

“Jangan memperkeruh suasana dengan menggiring persoalan ini ke isu SARA. Hal tersebut tidak mencerminkan sikap seorang tokoh,” ujarnya.

Insan juga mempertanyakan sikap oknum tokoh budaya tersebut yang dinilai baru bersuara setelah situasi memanas.

“Jika benar merasa risih dengan pertikaian yang terjadi, mengapa tidak muncul sejak awal? Seharusnya turun langsung, menemui kedua belah pihak, dan menyelesaikan secara adat dengan ketokohan yang dimiliki,” katanya.

Ia pun menambahkan, “Mengapa setelah pihak Syahdan melakukan perlawanan, seolah-olah baru bereaksi?”

Insan Banurea menegaskan bahwa langkah yang diambilnya bertujuan untuk meluruskan persepsi publik sekaligus memulihkan nama baiknya.

Ia berharap masyarakat tidak serta-merta menerima pernyataan yang belum jelas maknanya.

“Saya menantang untuk berani menjelaskan secara terbuka apa makna sebenarnya dari ‘tiris tongkarang’ yang disampaikan. Jangan hanya menyatakan sesuatu tanpa dasar yang jelas,” tandasnya.

Penulis : [Baslan Naibaho]

Redaktur : [Abednego Manalu]

609 Pembaca

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *