Advertisement

Lebih Setahun Tak Ditangani, Drainase di Siatas Barita Dikeluhkan

TAPUT – Editorial24jam.com ||  Pembangunan infrastruktur di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatera Utara, terus digenjot pemerintah daerah. Namun, di tengah pembangunan tersebut, persoalan infrastruktur dasar yang bersentuhan langsung dengan keselamatan dan aktivitas warga masih menjadi perhatian.

Salah satunya kondisi drainase di kawasan Hotel Angkasa, Desa Simorangkir Julu, Kecamatan Siatas Barita. Warga mengkhawatirkan kondisi saluran air tersebut karena dinilai tidak lagi mampu mengalirkan air secara optimal ketika hujan deras.

Keluarga pemilik hotel, Lenny Siregar, mengatakan aliran air dari kawasan yang lebih tinggi kerap menjadi deras saat hujan. Persoalan semakin mengkhawatirkan karena gorong-gorong di bawah drainase disebut telah mengalami keretakan.

Akibatnya, menurut dia, aliran air tidak sepenuhnya mengikuti jalur yang semestinya dan berpotensi menggenangi area sekitar.

“Apalagi kalau hujan deras, air dari atas sangat deras. Sekarang alirannya tidak pada jalurnya lagi, sudah berserakan. Kami khawatir kalau dibiarkan bisa berakibat fatal, seperti longsor bahkan jalan ambruk,” kata Lenny.

Kekhawatiran itu bukan sekadar soal genangan air. Jika kerusakan saluran terus dibiarkan, derasnya aliran air berpotensi menggerus tanah di sekitar konstruksi dan memengaruhi kondisi badan jalan.

Persoalan tersebut menjadi sorotan karena Pemkab Taput tengah mendorong pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah.

Berdasarkan data yang disebut terkait Rancangan Perubahan APBD Kabupaten Tapanuli Utara Tahun Anggaran 2026, belanja modal yang menjadi salah satu indikator pengalokasian anggaran untuk pembangunan dan penanganan infrastruktur meningkat dari sekitar Rp72,068 miliar menjadi Rp146,651 miliar.

Besarnya alokasi tersebut diharapkan sejalan dengan perhatian terhadap infrastruktur dasar yang menjadi kebutuhan langsung masyarakat, termasuk sistem drainase dan saluran pembuangan air.

Lenny berharap pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur baru, tetapi juga melakukan pemeliharaan dan perbaikan terhadap infrastruktur yang telah mengalami kerusakan.

“Harapan kami pemerintah bisa melihat langsung kondisi ini dan segera memperbaikinya sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Jangan sampai menunggu ada korban atau jalan benar-benar ambruk baru ditangani,” ujarnya.

Pemilik Hotel Angkasa, Samuel Hutabarat, mengatakan persoalan tersebut sebenarnya telah disampaikan kepada pemerintah daerah sejak lama.

Saat dikonfirmasi, Jumat (11/9/2026), Samuel menyebut pengajuan terkait kondisi drainase itu telah disampaikan kepada Pemkab Taput. Permohonan juga disampaikan melalui pemerintah desa untuk diteruskan kepada pemerintah kabupaten.

Namun, hingga kini, menurut Samuel, belum ada penanganan terhadap kondisi drainase yang dikeluhkan tersebut.

“Sudah lama kami sampaikan. Bahkan sudah lebih dari setahun, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” kata Samuel.

Kepala Desa Simorangkir Julu, Gerhana Simorangkir, membenarkan adanya pengajuan dari pihak masyarakat terkait persoalan tersebut.

Menurut Gerhana, permohonan itu memang telah disampaikan sejak lama. Namun, hingga kini belum mendapat penanganan sebagaimana yang diharapkan masyarakat.

Samuel mengatakan pihaknya pada prinsipnya tidak hanya menunggu penanganan dari pemerintah. Ia menyatakan siap berswadaya untuk membantu memperbaiki bagian drainase yang menjadi sumber kekhawatiran tersebut.

Menurut Samuel, kesiapan tersebut didorong oleh kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitar sekaligus kekhawatiran apabila kerusakan dibiarkan semakin parah.

“Kami sebenarnya siap berswadaya untuk memperbaikinya. Ini bukan semata-mata soal hotel, tetapi kami juga khawatir kalau dibiarkan, dampaknya bisa lebih besar. Kami berharap pemerintah juga memberikan perhatian dan membantu menangani persoalan ini,” ujarnya.

Ia berharap Pemkab Taput dapat turun langsung melakukan pemeriksaan terhadap kondisi drainase dan gorong-gorong tersebut, kemudian menentukan langkah penanganan yang diperlukan.

Bagi masyarakat dan pihak pemilik hotel, persoalan tersebut diharapkan tidak menunggu sampai terjadi banjir, longsor, atau kerusakan badan jalan. Perbaikan sedini mungkin dinilai lebih penting untuk mencegah risiko yang lebih besar sekaligus menjaga keselamatan warga dan pengguna jalan.

Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan dari Pemkab Tapanuli Utara mengenai rencana penanganan drainase tersebut.

4 Pembaca

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *