TAPUT – Kondisi memprihatinkan tampak jelas di SD Negeri 173129 Pagarsinondi. Sekolah berakreditasi B tersebut diduga abai dalam merawat sarana dan prasarana, meski setiap tahunnya menerima kucuran dana pemerintah. Fakta di lapangan pun memunculkan tanda tanya besar terkait pengelolaan anggaran.
Berdasarkan pantauan pada Selasa (31/03/2026), sejumlah bagian gedung sekolah terlihat dalam kondisi mengkhawatirkan. Beberapa lembar asbes tampak nyaris roboh, sementara tiang penyangga bangunan juga terlihat rapuh dan berpotensi ambruk. Kondisi ini disebut telah berlangsung cukup lama tanpa adanya perbaikan signifikan.
Selain merusak estetika bangunan, situasi tersebut dinilai membahayakan keselamatan siswa-siswi yang setiap hari beraktivitas di lingkungan sekolah. Ironisnya, kerusakan tersebut terjadi di tengah aliran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang rutin diterima.
Data yang dihimpun menunjukkan, pada tahun 2024 sekolah ini menerima dana BOS sebesar Rp115.900.000, dengan alokasi Rp8.590.000 untuk perawatan sarana dan prasarana. Sementara pada tahun 2025, dana BOS yang diterima mencapai Rp117.000.000, dengan Rp16.860.000 dialokasikan untuk perawatan. Namun, penggunaan anggaran tersebut dinilai tidak maksimal jika melihat kondisi fisik sekolah saat ini.
Tak hanya itu, sejumlah jendela ruang kelas terlihat pecah dan tidak diperbaiki. Kondisi ini semakin mempertegas dugaan lemahnya perhatian terhadap fasilitas dasar pendidikan.
Sorotan juga tertuju pada pengelolaan perpustakaan sekolah. Ruangan yang seharusnya menjadi pusat literasi siswa itu disebut jarang dibuka dan dimanfaatkan. Padahal, anggaran untuk pengembangan perpustakaan terbilang besar, yakni Rp41.785.000 pada tahun 2024 dan kembali dikucurkan sebesar Rp38.390.000 pada tahun 2025. Besarnya dana tersebut kini dipertanyakan transparansi dan realisasinya.
Di sisi lain, fasilitas toilet yang sebelumnya direhabilitasi menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2019 juga tak luput dari kritik. Berdasarkan pantauan, kondisi toilet tampak kotor dan tidak memiliki fasilitas air yang memadai, sehingga tidak layak digunakan.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala SD Negeri 173129 Pagarsinondi, Merry Pasaribu, belum berhasil dikonfirmasi terkait kondisi tersebut.
Atas temuan ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Utara didesak untuk segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pihak sekolah. Mengingat, persoalan ini bukan sekadar soal administrasi, melainkan menyangkut keselamatan dan kenyamanan ratusan siswa dalam menempuh pendidikan.
Kondisi ini menjadi ironi di tengah komitmen peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Tapanuli Utara. Ketika dana terus mengalir, namun fasilitas dasar justru terabaikan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya anggaran, tetapi juga masa depan generasi muda.

















Leave a Reply