Advertisement

Tokoh Adat, Perempuan, dan Kepala Desa di Pangaribuan Bersuara Tolak THM Remang-remang Berkedok Lapo Tuak

TAPANULI UTARA – editorial24jam.com ||Setelah ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Pemuda, Pemudi, dan Masyarakat Tapanuli Utara menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Bupati Taput, Jumat (17/4/2026), penolakan terhadap tempat hiburan malam berkedok cafe dan resto, serta lapo tuak yang dinilai berkedok tempat remang-remang, kini meluas hingga ke wilayah Pangaribuan.

Jika sebelumnya suara penolakan datang dari organisasi yang tergabung dalam aliansi, kini aspirasi tersebut menyatukan lebih banyak unsur. Forum masyarakat, organisasi perempuan, tokoh adat, hingga sejumlah kepala desa yang wilayahnya berdekatan dengan lokasi operasional ikut menyuarakan keresahan yang sama, meski belum turun ke jalan. Minggu 17/05/2026.

Desakan muncul seiring meningkatnya keresahan warga yang dinilai bukan lagi keluhan sesaat. Persoalan ini berkembang menjadi isu sosial yang menyentuh ketertiban lingkungan, kenyamanan masyarakat, hingga kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang bagi generasi muda.

Dalam penyampaian aspirasi, berbagai pandangan mengerucut pada satu poin: masyarakat meminta perhatian serius terhadap aktivitas tempat-tempat yang menimbulkan keresahan. Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar soal keberadaan usaha, tetapi menyangkut keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat sekitar.

“Jika sebuah tempat usaha lebih banyak menimbulkan keresahan dibanding manfaat sosial bagi masyarakat sekitar, maka perlu ada evaluasi serius. Jangan sampai label lapo tuak hanya menjadi tameng untuk aktivitas lain yang merusak ketertiban,” ujar salah satu perwakilan forum masyarakat.

Bagi masyarakat Batak, lapo tuak bukan sekadar tempat minum. Lapo memiliki nilai sosial yang kuat sebagai ruang bertukar pikiran, berdiskusi, hingga mempererat hubungan antarwarga. Ketika fungsi tersebut mulai bergeser, sebagian warga menilai muncul persoalan yang lebih besar: potensi krisis moral bagi generasi muda.

Keresahan warga disebut berkaitan dengan aktivitas yang berlangsung hingga larut malam, bahkan sampai subuh, kebisingan, lalu-lalang pengunjung pada jam tertentu, serta dampak terhadap lingkungan sosial di sekitar kawasan operasional.

Organisasi perempuan di Pangaribuan juga menyampaikan keprihatinan. Menurut mereka, lingkungan sosial yang sehat penting bagi pertumbuhan anak dan ketahanan keluarga.

“Kami tidak ingin anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang menghadirkan keresahan berkepanjangan. Lingkungan yang sehat bukan hanya tugas orang tua, tetapi tanggung jawab bersama,” ujar perwakilan organisasi perempuan.

Tokoh adat yang ikut bersuara mengingatkan bahwa masyarakat Batak dibangun di atas nilai saling menghormati, menjaga martabat, dan tanggung jawab sosial. Mereka menilai perkembangan usaha dan aktivitas ekonomi harus berjalan berdampingan dengan nilai adat dan kenyamanan masyarakat.

Sejumlah kepala desa di sekitar lokasi juga mengaku menerima keluhan warga. Menurut mereka, keresahan perlu ditanggapi serius agar tidak berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas.

Situasi ini memunculkan desakan agar pemerintah daerah dan aparat terkait meninjau legalitas maupun aktivitas operasional tempat-tempat yang menjadi sorotan masyarakat.

Di balik desakan itu, terdapat satu pesan yang ingin disampaikan masyarakat Pangaribuan: pembangunan dan pertumbuhan ekonomi bukan hanya soal bertambahnya tempat usaha, tetapi juga soal bagaimana masyarakat tetap merasa nyaman hidup di lingkungannya sendiri.

Bagi masyarakat kampung, ketenangan bukan sesuatu yang mewah. Nilainya sering kali baru terasa ketika perlahan mulai terganggu.(BMT.Manalu)

466 Pembaca

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *